Di Pasar Banyak Tikus

Tikus merupakan hewan mamalia yang masuk kedalam famili Muridae. Ada berbagai jenis tikus seperti mencit (Mus sp), tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus novergicus), tikus sawah (Rattus argentiventer), dan masih banyak lagi. Namun ada yang menarik pada pameran yang saya datangi kali ini. Di pameran ini menampilkan tikus pasar. Apa ya bahasa latinnya? Gak usah dipikirin.

Pameran kali ini tidak menampilkan tikus dalam bentuk aslinya melainkan dalam bentuk lukisan. Pameran yang berjudul Di Pasar Banyak Tikus ini merupakan pameran lukisan dwi tunggal hasil karya Budi Karmanto dan Syafril Cotto.

OK saya akan ceritakan dari lukisan Budi Karmanto DR dulu. Saya suka lukisan beliau ini karena tidak hanya indah, tetapi juga lucu, menggelitik dan mengkritik. Budi mempunyai ciri khas dalam lukisannya yaitu katak. Hewan yang katanya tidak akan marah jika dikritik atau dicemooh.

Sebagai orang yang  pernah belajar biologi, katak berbeda dengan kodok. Dalam Bahasa Inggris, katak itu frog, kodok itu toad. Katak itu berkulit licin, berwana hijau tau merah kecokelat-cokelatan, kaki belakang lebih panjang dan jenjang, pandai melompat dan berenang. Sedangkan kodok memiliki kulit yang kasar dan bebintil-bintil, kaki belakang pendek, sehingga kurang pandai melompat jauh. Bahasa latinnya apa? Bisa search di mbah google.

Lihat Isi Pameran

IMG20160425104326
Yang Putih Pergi. (Budi Karmanto DR)

Sebelumnya, izinkan saya sebagai orang awam dalam dunia seni mengomentari lukisan-lukisan dalam pameran tersebut.

Lukisan yang pertama yang saya lihat berjudul Yang Putih Pergi. Awalnya saya berpikir, apa maksudnya? Ada satu katak putih dan ada lingkaran di atas kepalanya seperti ciri khas ilustrasi malaikat-malaikat yang sering ditampilkan. Kemudian ada katak lain yang berwarna-warni sedang melihat katak putih.

Setelah itu saya tersenyum kecil. Mungkin seperti itu pula yang terjadi di kehidupan. Orang-orang “putih” seringkali pergi. Entah karena tak tahan lalu pergi, diusir lalu pergi, atau dibunuh lalu kemudian pergi selama-lamanya, hehehe.

IMG20160425104905
Karya Anak Bangsa (Budi Karmanto DR)

Selanjutnya lukisan kedua yang saya lihat berjudul Karya Anak Bangsa.  Ini lukisan yang sangat menggelitik. Para katak digambarkan sedang membuat “patung”. Yang menarik, patungnya adalah patung tikus yang dibadannya ada gambar peta Indonesia. Kita ketahui, tikus identik dengan sindiran bagi para koruptor. Dan lukisan ini sindiran bagi anak bangsa yang merasa mengkaryakan koruptor.

Ngomong-ngomong soal koruptor, data dari KPK, dari tahun 2004-2016, KPK telah mengeksekusi 350 kasus.

tabulasi data penanganan KPK tahun 2004-2016.jpg

Social Science Research memuat hasil penelitian Rimawan Pradiptyo, Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM,  yang berjudul “Do Corruption Pay? If So whom Benefited the Most”. Dalam penelitiannya, beliau membandingkan antara nilai korupsi dari kasus-kasus yang telah diputus Mahkamah Agung dan hukuman finansialnya berupa denda serta uang pengganti. Ia menyebutkan, nilai kerugian negara dari 1.365 kasus korupsi yang telah berkekuatan hukum tetap atau inkracht sepanjang 2001 – 2012 mencapai Rp 168,19 triliun. Namun, uang yang berpotensi kembali ke negara hanya Rp 15,09 triliun atau hanya 8,97 persen. Wow banyak juga ya.

Kembali ke lukisan.

IMG20160425105007
Hukuman Sang Tikus (Budi Karmanto DR)

Lukisan selanjutnya berjudul Hukuman Sang Tikus. Ketika tikus-tikus siap menerima hukuman dari algojo katak merah. Ada tikus yang diduduki oleh katak. Ada tikus yang menunggu digantung di tali kematian. Namun dalam dunia nyata, adakah koruptor yang dihukum gantung?

IMG20160425105318
Dialog Perdamaian (Budi Karmanto DR)

Ada pula lukisan yang membuat saya tertawa. Lukisan yang berjudul Dialog Perdamaian ini mengingatkan saya saat masih SMA. Ketika itu pertama kali saya membawa sepeda motor ke sekolah. Dan saat itu pertama kali juga saya ditilang. Kemudian ada dialog perdamaian antara saya dan polisi. Hingga akhirnya saya bisa mendapatkan STNK motor itu kembali.

IMG20160425105637
Evolusi Terkontaminasi (Budi Karmanto DR)

Evolusi Terkontaminasi. Lukisan ini lagi-lagi mengingatkan pelajaran biologi. Charles Darwin dengan teori evolusinya menjelaskan bahwa ada kekerabatan dekat antara monyet dengan manusia. Sehingga ada kesimpulan bahwa nenek moyang manusia adalah monyet.

Namun dalam lukisan ini ada teori evolusi yang berbeda dengan Charles Darwin. Budi Karmanto sekan menciptakan teori evolusi baru.yaitu Evolusi Terkontaminasi. Bahwa manusia saat ini secara jasad merupakan evolusi dari monyet dan  secara pikiran merupakan evolusi dari tikus.

IMG20160425110129
Dia adalah Kita (Budi Karmanto DR)

Masih ingat dengan pemilu Presiden 2014? Ya, saat dimana rakyat Indonesia berpecah terbagi menjadi dua bagian. Rakyat Prabowo dan Rakyat Jokowi. Saat itu pula mungkin, di balik manusia-manusia baik yang mendukung kedua calon, ada tikus-tikus yang menyelinap kedalamnya.

Hal itu tergambarkan dalam lukisan Dia adalah Kita. Segerombolan katak hijau yang mengangkat tangan dan ada yang mengangkat angka 2 pada jarinya. Kemudian ada segerombolan tikus yang mencoba menyelinap masuk ke dalam gerombolan katak. Apakah tikus-tikus ini sudah tertangkap?

berebut jadi wakil rakyat
Berebut Jadi Wakil Rakyat (Budi Karmanto DR)
IMG20160425105553
Berburu Tikus (Budi Karmanto DR)

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak semudah itu menangkap para tikus. Keberadannya bukan hanya suka menyelinap, namun juga suka berebut “kue”. Bagi yang beruntung, akan terus berada pada gedung “toko kue” yang megah. Bagi yang tidak beruntung, akan tertangkap tangan oleh superhero yang berikat pinggang K. hehehe

Dibawah ini saya tampilkan lukisan Budi Karmanto DR yang lainnya, walaupun tidak semuanya.

Lanjut Ke Lukisan Dwi Tunggal Lainnya

Syafril Cotto, pelukis yang pernah mengenyam pendidikan di STSR-ASRI Yogyakarta ini lebih menampilkan lukisan-lukisan tentang Pasar. Jadi, sesuai dengan judul pamerannya, Di Pasar Banyak Tikus. Budi Karmanto menampilkan tikusnya, Syafril Cotto menampilkan pasarnya. Bukan hanya pasar sebenarnya, tetapi juga tentang fenomena kehidupan yang ada pada keseharian kita.

Lukisan diatas menggambarkan bagaimana hirup pikuk di pasar. Ada pedagang yang menjual dagangannya, ada orang-orang yang menawar harga. Tempat ini bukan hanya mempertemukan antara penjual dan pembeli, tetapi juga menjadi kunci perekonomian ril suatu negara.

Apa jadinya ketika harga-harga di pasar semua meningkat sehingga masyarakat kehilangan daya belinya? Krisis ekonomi bisa terjadi karena itu. Hal itu digambarkan Syafril Cotto dalam lukisannya yang lain, ketika harga suatu komoditas seperti cabe melambung tinggi.

IMG20160425105215
Melambung Bersama Cabe (Syafril Cotto)

Lukisan ini tidak hanya melihat fenomena pasar sesungguhnya. Tetapi juga fenomena cabe-cabean yang ternyata juga ada pasarnya. Ini lukisan yang membuat fokus saya terpecah dua. Mau lihat cabe yang merah apa cabe yang diatas cabe merah. hihihi

Memang berita cabe-cabean tak kalah rame dengan cabe beneran, terutama di dunia online.  Bukan hanya itu, cabe-cabean juga menginspirasi menjadi lagu dengan judul cabe-cabean dan laku di pasaran. Bahkan ada lagu yang masih nyambung dengan cabe yaitu terong di cabein.

 

IMG20160425110752
Membela Rakyat Nelayan (Syafril Cotto)

Memang, kalau ngomongin cabe, tak akan ada habisnya. Bagaimana kalau ikan di cabein? hahaha cabe lagi, walaupun ada ikannya.

OK, nyambung ke ikan. Kalau di tanya siapa pahlawan pencari ikan? Pasti jawabnya nelayan. Bagaimana nasibnya sekarang? Apakah lebih makmur dari petani cabe? Hihihi lagi-lagi cabe.

Maaf para pembaa, kalau tulisannya sudah agak ngaco. Maklum bisa dibilang, ini tulisan terpanjang dari postingan sebelumnya. Majalah Gratis untuk Para Traveler dan Affandi Sang Maestro di Galeri Sisi. Lanjut agak serius.

Selain itu, Syafril Cotto menampilkan  lukisan yang menarik berjudul Harga Diri. Lukisan itu menggambarkan  wanita penjual jamu dan wanita “penjual harga diri”. Wow. Dua hal yang kontras dan menginspirasi saya. Kerasnya dunia membuat manusia harus mampu bertahan. Ada yang menjual produk dan keahliannya. Ada pula yang mau tidak mau, terpaksa tidak dipaksa, menjual harga dirinya.

Dari melihat pameran ini saya mencoba mengambil hikmah.

Jika cabe melambung, tikus menyusup, maka manusia bisa membuat keduanya.

Maaf, kalau hikmah diatas garing dan tidak jelas,hehehe.  Jika teman-teman tertarik dan ingin melihat lukisan Budi Karmanto dan Syafril Cotto yang lain, langsung saja datang ke Aula Cipta 2, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Masih ada sampai 3 Mei loh.

Selamat Jalan-Jalan.

 

Credit:

Penulis bukanlah kurator seni. Hanya tukang jalan.

Sumber foto: dokumen pribadi
Data korupsi: kpk.go.id
Sumber bacaan: kompas.com, satu lingkar.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s